Sabtu, 23 April 2011

Inne Rachma, Fotografer Fashion yang Berjilbab



Muslim dan dunia modeling barat, terkadang susah diselaraskannya. Namun cukup unik dengan wanita yg satu ini, Inne Rachma Hardjanto, wanita muslim berjilbab ini memiliki pekerjaan sebagai fotografer fashion di Belanda.

Adakah persamaan konsep antara foto model yang biasanya tak keberatan dijepret dengan gaya seksi, dengan prinsipnya sebagai wanita muslim yg berjilbab ?

Berawal dari hobi. Ketika masih kuliah ia sering mengabadikan gambar-gambar kejadian di sekitarnya. Saat pindah ke Belanda, 4th yg lalu, Inne memulai petualangannya sebagai fotografer yg memotret pemandangan dan tempat-tempat unik yg ia kunjungi. Namun Inne, sebagai seorang ibu muda, ingin menggapai tantangan yg lebih tinngi.

"Saya lebih serius ke profesional dan lebih mentargetkan pasar fashion dan modeling. Karena klien dari perusahaan dari dunia modeling lebih semarak. Saya juga melihat dunia itu sangat banyak butuh fashion fotografer." katanya kepada Radio Belanda, RNW.

Namun apakah sebagai wanita muslim yg mengenakan jilbab, memotret di dunia fashion tidak mengalami hambatan ?

"Awalnya saya berpikiran seperti itu. Namun saya percaya diri saja dan mengajukan tawaran ke Pauline Grossen. Itu pertama kali. Memang sebelumnya saya juga sudah pernah memotret model, tetapi bukan model papan atas gtu istilahnya."

Pauline Grossen adalah artis dan sekaligus model terkenal di Belgia. Ia merintis karirnya sebagai artis cilik dan banyak membintangi beberapa film dan acara tv, termasuk presenter berbagai acara. Ia adalah model untuk beberapa merk terkenal, seperti Mexx. Pernah juga muncul dalam iklan beberapa produk.


Tidak Bertentangan
Namun apakah memotret di dunia fashion yg kadang menampilkan bagian tubuh seksi tidak bertentangan dengan prinsip Inne sebagai seorang muslim ?

“Konsep saya adalah tidak mau memotret dengan gaya telanjang atau ketelanjangan yang tersirat.  Dan saya biasanya pilih teman bekerja juga. Kayak Pauline itu kan teman bekerjanya semua sopan. Dia ga mau yg vulgar gitu. Waktu saya foto kakinya yg agak ke atas aja dia protes. Dia juga ga mau.”

Hal yg sama juga diterapkan di klien lainnya seperti ke perusahaan konsultan kecantikan dari Belgia. Resepnya, Inne yg mengatur segala sesuatu yg berhubungan dengan gaya. Ia bakal bersusah payah mencari baju sendiri yang cocok dengan konsepnya.

“Meskipun mereka konsepnya sama dengan saya, namun batasan orang barat kan beda dengan saya. Kalau batasan orang sini yang namanya telanjang itu kan beda. Saya punya batas-batas tertentu.  Karena saya ingin pekerjaan yang berkah ya.”


Harus Profesional
Kendati demikian ia belum pernah sekalipun bentrok dengan foto model. Yg lebih penting lagi Inne menjalankan keprofesionalannya.


“Saya baru tahu juga bahwa model dan artis di sini ga semua suka difoto dengan vulgar. Jadi mereka banyak nulis di situs dan kontak mereka bahwa mereka tidak mau difoto telanjang. Dan mereka pun beberapa ada yg mengontak saya begini: Saya pingin bekerja dengan anda, karena Anda konsepnya jelas tidak mau yg vulgar. Karena saya sudah lelah, seringkali fotografer-fotografer menawarkan saya untuk berfoto tanpa busana. Saya justru ingin mencari fotografer seperti anda.”

Dengan demikian, jilbab Inne menjadi nilai lebih buatnya sebagai seorang fotografer. Inne akan terus berkarir menjadi fotografer profesional bernafaskan agama di dunia barat.

1 komentar:

  1. artikel ini adalah artikel dari Radio Nederland wereldomroep. harap cantumkan sumber.

    BalasHapus